2021/02/04

DIA DAN KECEWANYA

Katakanlah, kecewanya memiliki nyawa

Jadilah dia sosok berjiwa ksatria di bawah naungan cakrawala

Matanya basah, menjadikan padam luapan amarah

Monolog sore itu memberi ruang untuk maaf

 

Katakanlah, kecewanya memiliki nyawa

Henti langkahnya menuju timur

Keyakinannya tenggelam bersama surya ditemaram senja

Langit Fajar esok hari tidak lagi memunculkan semburat jingga yang sama

2021/01/09

PERIHAL RASA

Mencintai itu bukan hanya perihal rasa.
Ada makna yang lebih dalam dari hanya ketertarikan antar dua insan manusia.

Mencintai itu perihal belajar.
Belajar menjadi versi terbaik untuk dipersembahkan.

Mencintai itu perihal juang.
Berjuang menuju akhir cerita dongeng putri istana 'happily ever after'.

Mencintai itu perihal jaga.
Menjaga apa yang digenggam, apa yang dirasa.

Mencintai itu perihal maaf.
Memaafkan, mengesampingkan ego.

Mencintai itu perihal syukur.
Mensyukuri segala yang menjadikan kita cukup, tidak perlu ada yang lain untuk melengkapi.

2020/09/24

BERBICARA TENTANG CITA-CITA


Malam hari, hendak tidur. Sekali dua kali terlintas di kepalaku, jika enam tahun yang lalu aku ditakdirkan mengikuti jejak kakakku sebagai arsitek, maka malam ini aku pasti duduk di meja belajarku, kedua mata menatap layar laptop, dan fokus penuh merancang proyek tanpa tau pukul berapa akan rampung. Perjuanganku enam tahun lalu kalau diingat-ingat, bikin aku ketawa sendiri. Cita-cita yang keukeuh kuperjuangkan tanpa restu orangtua, jelas Tuhan tidak memberi izin.

Menjalani kehidupanku saat ini, bukanlah sesuatu yang aku sesali dari masa lalu. Ternyata, menjadi dokter asik juga. Dulu, berinteraksi dengan mereka yang sedang berada di titik terendah adalah hal yang aku hindari sepanjang hidup. I never knew how to comfort people, bahkan aku terlalu kaku untuk sekedar bilang "sabar dan tetap semangat ya". All my old me can do was giving support in silence and providing their physical needs, with assumption that everybody need a peaceful mind and soul to get through their obstacles. Saat ini? Justru jenis interaksi inilah yang kuhadapi hampir setiap hari, dan sebuah pembelajaran buat diriku sendiri bahwa dukungan verbal bisa menjadi keajaiban bagi sebagian orang untuk hidup. Tuhan Maha Baik, Tuhan mengerti mana yang terbaik untuk hamba-Nya.

Dulu, aku cukup dingin dan tidak banyak peduli dengan orang lain, hingga pada suatu hari, aku membuat kesalahan saat jaga kamar bersalin. Kesalahanku cukup fatal, residen menghukumku observasi sepanjang malam tanpa tidur dengan laporan telpon pada jam-jam yang ditentukan. It was such a turning point for me, kejadian malam itu membuatku menangis di ibadah subuhku, sambil berkali-kali mengucap maaf karena hampir saja aku menghancurkan masa depan seorang wanita muda. Lagi-lagi, Tuhan Maha Baik. Tuhan 'sentil' untuk menunjukkan apa kekuranganku di jalan yang bukan menjadi cita-citaku.

Melalui kehidupanku saat ini, Tuhan yang Maha Baik merubah haluanku ke arah yang lebih baik. Pelan-pelan, aku dikenalkan dengan hijab dan mengaji, dimana mindset-ku sejak kecil tentang agama yang kuanut hanyalah tentang sholat 5 waktu dan puasa Ramadhan. Tuhan tunjukkan melalui regulasi sekolahku dan teman-teman sholeh-sholehah yang sukarela mengingatkanku tentang ilmu-Nya. Di fase klinik, melalui berbagai cara dan proses kematian yang kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri, lagi-lagi aku diingatkan perihal batas hidup dan mati serta hidup setelah mati. Tuhan sungguh Maha Baik, Tuhan punya berbagai cara untuk mendekatkan hamba-Nya kepada-Nya.

Membayangkan hidup dengan cita-cita enam tahun yang lalu, aku yakin Tita tidak akan pernah belajar hal-hal yang Tuhan berikan di jalan ini. Walaupun perjalanan yang kutempuh saat ini bukanlah cita-citaku, aku tidak menyesal dan akan tetap memiliki cita-cita. Jauh sebelum enam tahun yang lalu, Tuhan yang Maha Baik sudah menunjukkan role model yang pantas untuk aku tiru, dialah Papa. Tuhan perlihatkan bagaimana seorang dokter mengabdi melalui keilmuannya Papa tidak pernah absen menggalang bakti sosial bersama yayasan SMA-nya — "Operasi Bibir Sumbing Gratis". Maka, cita-citaku saat ini adalah menjadi seorang spesialis yang memang bergelut dibidang ini dan meneruskan kebaikan Papa dengan cara yang sama. Sekarang aku tau, cita-cita bukanlah sekedar bayangan seperti apa kehidupan yang ingin kita jalani, tapi cita-cita harus memiliki makna dan tujuan supaya punya nilai guna untuk diri sendiri dan sesama. Melalui perjalanan yang bukan cita-citaku, aku belajar banyak. Melalui perjalanan ini, aku kembali bercita-cita.

Semoga Tuhan dan semesta-Nya merestui, karena aku percaya Tuhan Maha Baik.

Amin.


2020/08/18

SPEAK THE UNSPOKEN

"Senyum tegarmu pas ngasih aku teh anget di hari Papamu gak ada, itu memori paling ultimate tentang kamu yang ada di kepalaku."

Fajar told me where it all began.

The simplest things are often the truest.

2020/07/26

SUDUT RUMAH

Sudut rumah itu tak lagi sama,
Sudut itu pernah menyaksikan
Senyum merekah kepada kaki-kaki mungil yang belajar menapak

Sudut rumah itu tak lagi sama,
Sudut itu pernah mendengar
Senandung kecil kepada bibir yang belum berbahasa

Sinar mentari pagi menyela rimbun dedaunan,
Sepasang bola mata menatapnya teduh dari atas kursi rodanya
Sunyi yang menjadikannya syahdu
Sabar yang menjadikannya syukur

Semesta merenggut seluruh kisahnya seketika

Sehingga, 
Sudut rumah itu tak lagi sama,
Sekadar mengingatkan, tetapi tidak mengembalikan

2020/06/13

BERPROSES


Dua malam terakhir, ponsel selalu berdering dari beberapa teman yang meluapkan keluh kesah dan kekesalannya terhadap teman kami yang lain. Mereka sedang berkonflik, aku mendengarkan dan mengambil pelajaran untuk menjadi renungan bersama. Orang-orang pernah bilang, 'usia hanyalah angka, pertambahan usia belum tentu menjadikan kita dewasa'. Ada benarnya, ternyata kedewasaan seseorang dinilai dari pola pikir dan karakternya. Karakter yang baik tidak muncul instan, tetapi progesif melalui proses variatif di sepanjang perjalanan.

Kita adalah kita, bukan Presiden Amerika yang sering menjadi perhatian dunia. Diri kita bukanlah pusat perhatian dunia. Maka dari itu, tidak perlu berlagak jumawa, apalagi sampai merendahkan orang lain. Terkadang penting untuk diingat bahwa dunia ini dihuni 7 miliar manusia dengan 7 miliar kepribadian yang berbeda. Jumlah yang tidak sedikit, terlalu mustahil untuk memaksakan semua orang suka dengan kita apalagi menuntut pengertian. Pun diri kita sendiri, tidak perlu untuk selalu mendengar ucap orang lain apalagi memenuhi setiap ekspektasi mereka. Adalah diri sendiri yang paling mengenal kita, tetapi tetap saja tidak boleh menutup mata dan telinga. Tidak bisa dipungkiri bahwa kita tetap membutuhkan orang lain dalam berproses menjadi baik. Kenapa? Karena kita tidak bisa sepenuhnya mengukur diri sendiri. Noda di punggung tidak akan pernah tampak di cermin, kita akan tau karena teman. That's it! Refleksi tidak cuma datang dari diri sendiri, refleksi bisa aja datang dari personal lain yang menyaksikan bagaimana diri kita sehari-hari. Menurut saya, konflik adalah media refleksi — bagaimana pandangan personal lain tentang kita dan renungan diri atas tingkah yang kiranya menyakiti personal lain. Berpikirlah yang luas dan bijaksana sambil terus melihat ke dalam. Menemukan baik-buruk dan benar-salah adalah perkara rumit, karena keduanya selalu tampak abu-abu. Begitulah bagaimana hidup menyajikan proses — proses menjadi baik, yang tidak akan membentuk karakter sebelum digodog panjang. Berat, tapi ada mantra pendahulu yang harapannya dapat meringankan, 'do good and good will surely come to you'. Mantra yang masuk akal, karena karakter yang baik sebenarnya berakar dari kebajikan, dari diri sendiri dan yang datang setimpal dari mereka.

2018/09/23

CERITA TENTANG FAJAR


Selamat (menjelang) pagi, Madiun.

Akhirnya kubuka lagi wadah menulisku ini sambil menyantap oatmeal rasa kari ayam, segelas susu Dancow full cream tidak bergula (karena males beli gula), sambil mendengarkan lagu Plans dari Oh Wonder yang terputar dari akun spotify-ku.

Pagi ini, sekali lagi aku bersyukur kepada Tuhan atas udara yang aku hirup dan fungsi tubuhku yang masih dalam keadaan homeostasis. Aku bersyukur karena Tuhan tidak pernah mengingkari janjiNya untuk melindungi orang-orang tersayangku dan menjadikanku tenang setiap kali kukhawatirkan mereka. Dan terimakasih Tuhan, aku masih bisa menikmati waktu favorit untuk mengucap syukur kepadaMu dalam satu kali rotasi bumi, yaitu ketika fajar menyapa semestaMu.

Fajar. Seakan Tuhan tau apa yang aku sukai, sepenggal waktu yang kutunggu setiap hari, tiba-tiba datang menjelma menjadi sesosok nyata, berjiwa, dan ber-raga. Sosok itu berbadan 2 kali tubuhku, berkulit sedikit lebih gelap dariku dengan rambut sedikit bergelombang dan senyum menampakkan gigi yang kurang rapi. Matanya tidak bulat, namun mampu menciptakan tatapan hangat dan melindungi. Aku tidak mengerti mengapa Tuhan mengemas tegasnya sinar dan lembutnya warna langit fajar dalam seorang Fajar Tri Mudianto untuk ikut menyelami ruang kehidupanku.

"Jar, kamu adalah salah satu manusia terbaik yang Tuhan kasih untuk berada di sekeliling Tita. Ga pernah Tita menyangka bahwa yang datang di titik terpuruk bisa membawa Tita kembali melambung ke atas awan. Rasanya tiap ketemu mau bilang terimakasih terus, untuk senyum yang selalu berhasil kamu lukis dan tawa yang berhasil kamu urai. Walaupun kita sering berantem, I still and will always enjoy our relationship. Namanya juga beda isi kepala, ya kan? Melalui tulisan ini, Tita cuma mau bilang tetaplah menjadi Fajar seperti fajar yang Tita kagumi setiap hari. Fajar yang selalu bisa membuat Tita bersyukur atas semua yang Tita dapatkan selama ini, fajar yang bersinar tegas membangunkan setiap insan untuk kembali bekerja keras dan menjadi lebih baik dari hari kemarin, dan fajar yang kelembutan warna langitnya mampu meneduhi setiap makhluk sebelum menghadapi teriknya matahari. Semua itu ada di kamu Jar, kamu fajarku yang bernyawa. Tetap di samping Tita ya, Jar. Tita percaya, kehadiranmu di titik itu untuk mengingatkan Tita bahwa Tita harus bangkit karena waktu tidak berhenti sampai disitu. Terimakasih Jar, sudah bersedia mengayomi dan menjadi tempat berteduh hingga saat ini (dan semoga seterusnya). Karena kamu, Tita semakin bersyukur atas hitam-putih kehidupan yang Tuhan kasih."

Dan di detik-detik terakhir fajar berganti pagi, aku berdoa kepada Tuhan agar kamu senantiasa dalam lindunganNya. Semoga Tuhan selalu memberimu kesehatan, mencukupkan rizkimu, dan menyempurnakan iman dan akhlakmu, agar kelak kamu siap menjadi pendamping hidupku. Semoga aku mampu mengimbangimu dan tidak mengecewakanmu. 

Amin.
Ayo menua bersama, Jar!

2016/07/30

BLACK BOX


It's black, it's mysterious
We never get to see what's inside the box
Light never gets a chance to shine it through
The tape is unbreakable, it's packed perfectly

It's dangerous, it's full of surprises
Nobody knows if it might contain a bomb
It keeps terrorize you, day and night
An unwanted explosion would happen unpredictably

Can we open it?
Only by the chosen one who gets the opportunity
On the right time, at the right place
With maximum strength to endure the pain

And when the right time comes
No one can deny anymore
No one can ignore things
That came from the black box

The black box is no joke
Please, be ready
For the explosions, for the surprises
That the black box has brought to us

--

This poem was written 3 days ago, right after I got home at 1.15 AM from giving emotional support to my dearest Rizqulla Heldy at her place. Hearing bad news from her really took me back to nine month ago, when I was on the same position as her.

I send my deepest condolence to you, Hel. The loss of our loved ones is never easy, but I'm glad to watch you smile even at this difficult time in your life. You're one of my strong ladies I've ever known. Please keep inspiring me with your beautiful heart. And also, my prayers always go out for you, your Dad, and your family.

dear Rizqulla Heldy,
Stay strong and keep your head up.

2015/10/17

RINDU

Makam Papa, Oktober 2015

Teruntuk Papa,

Genap sepuluh hari kita menjalani kehidupan di dua dimensi yang berbeda. Bukan kali pertama kita merasakan sensasi long distance relationship dengan perbedaan dimensi, Papa juga sempat merasakan, kan? Kepergian Uni tujuh tahun lalu di usia yang tak disangka-sangka seakan mengingatkan kita bahwa ajal adalah skenario Tuhan yang tidak mengenal waktu.

Papa apa kabar disana? Kami yakin Papa mendapat kehidupan yang tenang yang sudah dibangun dari hasil perbuatan baik Papa di dunia. Iya, Papa orang baik, terbukti dari betapa banyaknya orang-orang yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir untuk Papa. Dari masyarakat kampung yang biasa menyapa dengan sapaan dokter Lelo, kawan-kawan sejawat Papa, sampai teman-teman adek yang bahkan belum sempat mengenal Papa. 

Rindu. Perasaan yang terus kami rasakan setiap menit setiap detiknya. Dibalik setiap perasaan rindu itu, doa kami terus mengalir seperti mata air yang tidak akan pernah kering. Tetesan air mata ini juga belum sepenuhnya kering, jiwa kami belum setegar dan sekuat batu karang. Suasana rumah masih terlalu sendu untuk kembali ceria, bukan karena kesedihan yang berlarut-larut, tapi rindu.

Menerima kenyataan bahwa kehilangan figur seorang ayah itu berat. Papa benar-benar memberi contoh yang baik secara langsung maupun tidak karena semua yang ada di diri Papa itu inspiratif. Sering Mama bercerita tentang bagaimana sebenarnya seluk beluk profesi dokter dari yang benar-benar memperjuangkan kemanusiaan berdasar sumpah pengabdian sampai kebusukan perlakuan rekan-rekan sejawat. Yang mendengarkan ceritanya aja jengkel, apalagi Papa yang mengalami. Tapi disitulah hebatnya Papa, cara Papa menyikapi semua itu Insya Allah akan menolong Papa menghadapi hari akhir nanti, pasti.


Kalau bukan karena motivasi dan support dari Papa, mustahil kami anak-anak Papa ini bisa menjadi seperti sekarang. Pilot, arsitek, ekonom, dan (calon) dokter adalah profesi-profesi yang tidak mudah untuk mencapai gelar sarjananya. Terima kasih kami haturkan untuk semangat yang telah ditularkan dan pelajaran-pelajaran hidup yang tak ternilai harganya. Doa kami terus mengiringi setiap langkah Papa menuju kebahagian yang abadi.

Sampaikan salam kami untuk Uni dan Tegar, cucu pertama Papa yang sekarang bisa Papa gendong-gendong. Beristirahatlah dengan tenang karena kami tahu tidak ada lagi rasa sakit yang Papa rasakan, tidak butuh kursi roda, obat-obatan dan suplai oksigen sebagai life support. Kami di sini senantiasa mencintai dan merindukan hadirnya Papa diiringi untaian doa yang tidak akan pernah putus. 

no words can describe how proud I am to be your daughter.

Selamat jalan dan sampai jumpa lagi di keabadian, Papa.




Hormat adinda,

Adik Tita