2018/09/23

CERITA TENTANG FAJAR


Selamat (menjelang) pagi, Madiun.

Akhirnya kubuka lagi wadah menulisku ini sambil menyantap oatmeal rasa kari ayam, segelas susu Dancow full cream tidak bergula (karena males beli gula), sambil mendengarkan lagu Plans dari Oh Wonder yang terputar dari akun spotify-ku.

Pagi ini, sekali lagi aku bersyukur kepada Tuhan atas udara yang aku hirup dan fungsi tubuhku yang masih dalam keadaan homeostasis. Aku bersyukur karena Tuhan tidak pernah mengingkari janjiNya untuk melindungi orang-orang tersayangku dan menjadikanku tenang setiap kali kukhawatirkan mereka. Dan terimakasih Tuhan, aku masih bisa menikmati waktu favorit untuk mengucap syukur kepadaMu dalam satu kali rotasi bumi, yaitu ketika fajar menyapa semestaMu.

Fajar. Seakan Tuhan tau apa yang aku sukai, sepenggal waktu yang kutunggu setiap hari, tiba-tiba datang menjelma menjadi sesosok nyata, berjiwa, dan ber-raga. Sosok itu berbadan 2 kali tubuhku, berkulit sedikit lebih gelap dariku dengan rambut sedikit bergelombang dan senyum menampakkan gigi yang kurang rapi. Matanya tidak bulat, namun mampu menciptakan tatapan hangat dan melindungi. Aku tidak mengerti mengapa Tuhan mengemas tegasnya sinar dan lembutnya warna langit fajar dalam seorang Fajar Tri Mudianto untuk ikut menyelami ruang kehidupanku.

"Jar, kamu adalah salah satu manusia terbaik yang Tuhan kasih untuk berada di sekeliling Tita. Ga pernah Tita menyangka bahwa yang datang di titik terpuruk bisa membawa Tita kembali melambung ke atas awan. Rasanya tiap ketemu mau bilang terimakasih terus, untuk senyum yang selalu berhasil kamu lukis dan tawa yang berhasil kamu urai. Walaupun kita sering berantem, I still and will always enjoy our relationship. Namanya juga beda isi kepala, ya kan? Melalui tulisan ini, Tita cuma mau bilang tetaplah menjadi Fajar seperti fajar yang Tita kagumi setiap hari. Fajar yang selalu bisa membuat Tita bersyukur atas semua yang Tita dapatkan selama ini, fajar yang bersinar tegas membangunkan setiap insan untuk kembali bekerja keras dan menjadi lebih baik dari hari kemarin, dan fajar yang kelembutan warna langitnya mampu meneduhi setiap makhluk sebelum menghadapi teriknya matahari. Semua itu ada di kamu Jar, kamu fajarku yang bernyawa. Tetap di samping Tita ya, Jar. Tita percaya, kehadiranmu di titik itu untuk mengingatkan Tita bahwa Tita harus bangkit karena waktu tidak berhenti sampai disitu. Terimakasih Jar, sudah bersedia mengayomi dan menjadi tempat berteduh hingga saat ini (dan semoga seterusnya). Karena kamu, Tita semakin bersyukur atas hitam-putih kehidupan yang Tuhan kasih."

Dan di detik-detik terakhir fajar berganti pagi, aku berdoa kepada Tuhan agar kamu senantiasa dalam lindunganNya. Semoga Tuhan selalu memberimu kesehatan, mencukupkan rizkimu, dan menyempurnakan iman dan akhlakmu, agar kelak kamu siap menjadi pendamping hidupku. Semoga aku mampu mengimbangimu dan tidak mengecewakanmu. 

Amin.
Ayo menua bersama, Jar!

No comments: