2015/10/17

RINDU

Makam Papa, Oktober 2015

Teruntuk Papa,

Genap sepuluh hari kita menjalani kehidupan di dua dimensi yang berbeda. Bukan kali pertama kita merasakan sensasi long distance relationship dengan perbedaan dimensi, Papa juga sempat merasakan, kan? Kepergian Uni tujuh tahun lalu di usia yang tak disangka-sangka seakan mengingatkan kita bahwa ajal adalah skenario Tuhan yang tidak mengenal waktu.

Papa apa kabar disana? Kami yakin Papa mendapat kehidupan yang tenang yang sudah dibangun dari hasil perbuatan baik Papa di dunia. Iya, Papa orang baik, terbukti dari betapa banyaknya orang-orang yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir untuk Papa. Dari masyarakat kampung yang biasa menyapa dengan sapaan dokter Lelo, kawan-kawan sejawat Papa, sampai teman-teman adek yang bahkan belum sempat mengenal Papa. 

Rindu. Perasaan yang terus kami rasakan setiap menit setiap detiknya. Dibalik setiap perasaan rindu itu, doa kami terus mengalir seperti mata air yang tidak akan pernah kering. Tetesan air mata ini juga belum sepenuhnya kering, jiwa kami belum setegar dan sekuat batu karang. Suasana rumah masih terlalu sendu untuk kembali ceria, bukan karena kesedihan yang berlarut-larut, tapi rindu.

Menerima kenyataan bahwa kehilangan figur seorang ayah itu berat. Papa benar-benar memberi contoh yang baik secara langsung maupun tidak karena semua yang ada di diri Papa itu inspiratif. Sering Mama bercerita tentang bagaimana sebenarnya seluk beluk profesi dokter dari yang benar-benar memperjuangkan kemanusiaan berdasar sumpah pengabdian sampai kebusukan perlakuan rekan-rekan sejawat. Yang mendengarkan ceritanya aja jengkel, apalagi Papa yang mengalami. Tapi disitulah hebatnya Papa, cara Papa menyikapi semua itu Insya Allah akan menolong Papa menghadapi hari akhir nanti, pasti.


Kalau bukan karena motivasi dan support dari Papa, mustahil kami anak-anak Papa ini bisa menjadi seperti sekarang. Pilot, arsitek, ekonom, dan (calon) dokter adalah profesi-profesi yang tidak mudah untuk mencapai gelar sarjananya. Terima kasih kami haturkan untuk semangat yang telah ditularkan dan pelajaran-pelajaran hidup yang tak ternilai harganya. Doa kami terus mengiringi setiap langkah Papa menuju kebahagian yang abadi.

Sampaikan salam kami untuk Uni dan Tegar, cucu pertama Papa yang sekarang bisa Papa gendong-gendong. Beristirahatlah dengan tenang karena kami tahu tidak ada lagi rasa sakit yang Papa rasakan, tidak butuh kursi roda, obat-obatan dan suplai oksigen sebagai life support. Kami di sini senantiasa mencintai dan merindukan hadirnya Papa diiringi untaian doa yang tidak akan pernah putus. 

no words can describe how proud I am to be your daughter.

Selamat jalan dan sampai jumpa lagi di keabadian, Papa.




Hormat adinda,

Adik Tita

No comments: