Malam hari, hendak tidur. Sekali dua kali terlintas di kepalaku, jika enam tahun yang lalu aku ditakdirkan mengikuti jejak kakakku sebagai arsitek, maka malam ini aku pasti duduk di meja belajarku, kedua mata menatap layar laptop, dan fokus penuh merancang proyek tanpa tau pukul berapa akan rampung. Perjuanganku enam tahun lalu kalau diingat-ingat, bikin aku ketawa sendiri. Cita-cita yang keukeuh kuperjuangkan tanpa restu orangtua, jelas Tuhan tidak memberi izin.
Menjalani kehidupanku saat ini, bukanlah sesuatu yang aku sesali dari masa lalu. Ternyata, menjadi dokter asik juga. Dulu, berinteraksi dengan mereka yang sedang berada di titik terendah adalah hal yang aku hindari sepanjang hidup. I never knew how to comfort people, bahkan aku terlalu kaku untuk sekedar bilang "sabar dan tetap semangat ya". All my old me can do was giving support in silence and providing their physical needs, with assumption that everybody need a peaceful mind and soul to get through their obstacles. Saat ini? Justru jenis interaksi inilah yang kuhadapi hampir setiap hari, dan sebuah pembelajaran buat diriku sendiri bahwa dukungan verbal bisa menjadi keajaiban bagi sebagian orang untuk hidup. Tuhan Maha Baik, Tuhan mengerti mana yang terbaik untuk hamba-Nya.
Dulu, aku cukup dingin dan tidak banyak peduli dengan orang lain, hingga pada suatu hari, aku membuat kesalahan saat jaga kamar bersalin. Kesalahanku cukup fatal, residen menghukumku observasi sepanjang malam tanpa tidur dengan laporan telpon pada jam-jam yang ditentukan. It was such a turning point for me, kejadian malam itu membuatku menangis di ibadah subuhku, sambil berkali-kali mengucap maaf karena hampir saja aku menghancurkan masa depan seorang wanita muda. Lagi-lagi, Tuhan Maha Baik. Tuhan 'sentil' untuk menunjukkan apa kekuranganku di jalan yang bukan menjadi cita-citaku.
Melalui kehidupanku saat ini, Tuhan yang Maha Baik merubah haluanku ke arah yang lebih baik. Pelan-pelan, aku dikenalkan dengan hijab dan mengaji, dimana mindset-ku sejak kecil tentang agama yang kuanut hanyalah tentang sholat 5 waktu dan puasa Ramadhan. Tuhan tunjukkan melalui regulasi sekolahku dan teman-teman sholeh-sholehah yang sukarela mengingatkanku tentang ilmu-Nya. Di fase klinik, melalui berbagai cara dan proses kematian yang kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri, lagi-lagi aku diingatkan perihal batas hidup dan mati serta hidup setelah mati. Tuhan sungguh Maha Baik, Tuhan punya berbagai cara untuk mendekatkan hamba-Nya kepada-Nya.
Membayangkan hidup dengan cita-cita enam tahun yang lalu, aku yakin Tita tidak akan pernah belajar hal-hal yang Tuhan berikan di jalan ini. Walaupun perjalanan yang kutempuh saat ini bukanlah cita-citaku, aku tidak menyesal dan akan tetap memiliki cita-cita. Jauh sebelum enam tahun yang lalu, Tuhan yang Maha Baik sudah menunjukkan role model yang pantas untuk aku tiru, dialah Papa. Tuhan perlihatkan bagaimana seorang dokter mengabdi melalui keilmuannya — Papa tidak pernah absen menggalang bakti sosial bersama yayasan SMA-nya — "Operasi Bibir Sumbing Gratis". Maka, cita-citaku saat ini adalah menjadi seorang spesialis yang memang bergelut dibidang ini dan meneruskan kebaikan Papa dengan cara yang sama. Sekarang aku tau, cita-cita bukanlah sekedar bayangan seperti apa kehidupan yang ingin kita jalani, tapi cita-cita harus memiliki makna dan tujuan supaya punya nilai guna untuk diri sendiri dan sesama. Melalui perjalanan yang bukan cita-citaku, aku belajar banyak. Melalui perjalanan ini, aku kembali bercita-cita.
Semoga Tuhan dan semesta-Nya merestui, karena aku percaya Tuhan Maha Baik.
Amin.

No comments:
Post a Comment